Benarkah Dexamethasone Ampuh Untuk Covid19?

Dexamethasone
Di masa pandemi seperti ini, setiap kabar baik pasti akan disambut dengan antusias. Nah, salah satu kabar mengembirakan yang menyita waktu kita beberapa hari terakhir adalah tentang pujian Badan Kesehatan Dunia atau WHO terhadap khasiat obat Dexamethasone yang katanya bermanfaat mengurangi tingkat keparahan Covid19. Benarkah demikian?

Semua orang di seluruh dunia kini tengah menghadapi pandemi wabah penyakit yang diakibatkan oleh virus corona Covid-19.

Melansir dari The Jakarta Post, Dexamethasone adalah obat steroid yang murah dan banyak digunakan. Kini, Dexamethasone telah menjadi obat pertama yang terbukti dapat menyelamatkan hidup pasien infeksi virus corona.

Hasil uji coba yang diumumkan pada hari Selasa (16/6) menunjukkan, Dexamethasone, obat yang biasanya digunakan untuk mengurangi peradangan pada penyakit lain, ternyata juga dapat mengurangi tingkat kematian sekitar 1/3 di antara pasien Covid-19 parah yang dirawat di rumah sakit.

Bahkan menurut sang peneliti, seorang pasien Covid-19 bisa sembuh hanya dengan menggelontorkan uang sekitar Rp 100 ribu.

Hasil penelitian menunjukkan obat tersebut harus segera menjadi perawatan standar pada pasien dengan kasus penyakit parah, kata para peneliti yang memimpin uji coba.

"Saat pasien Covid19 yang menggunakan ventilator atau oksigen diberikan dexamethasone, kondisinya dengan cepat membaik dan terbukti obat ini dapat menyelamatkan nyawa pasien, tentu saja dengan biaya yang sangat murah." kata Martin Landray, seorang profesor di Universitas Oxford yang ikut memimpin penelitian.

Lantas apa sebenarnya obat dexamethasone ini?

Melansir laman WebMD, Dexamethasone digunakan untuk mengobati penyakit autoimun seperti radang sendi, gangguan darah/hormon/sistem kekebalan tubuh, reaksi alergi, penyakit kulit dan mata tertentu, masalah pernapasan, gangguan usus dan beberapa jenis kanker.

Obat ini juga digunakan untuk mereka yang mengalami gangguan kelenjar adrenal (sindrom Cushing).

Selain itu, dexamethasone adalah hormon kortikosteroid (glukokortikoid), sehingga dapat mengurangi respons pertahanan alami tubuh dan mengurangi gejala seperti reaksi pembengkakan dan alergi.

Namun sayangnya, obat ini juga dapat menimbulkan reaksi lain pada tubuh seseorang.

Dexamethasone dapat menyebabkan gangguan perut, sakit kepala, pusing, perubahan menstruasi, sulit tidur, nafsu makan meningkat, atau kenaikan berat badan dapat terjadi.

Beberapa masalah yang bisa terjadi pada tubuh saat pemberian Dexamethasoen antara lain,

- Tanda-tanda infeksi (misalnya, demam, sakit tenggorokan yang berlangsung lama)
- Nyeri tulang atau persendian
- Peningkatan rasa haus dan sering buang air kecil
- Detak jantung cepat/lambat/tidak teratur
- Nyeri pada mata
- Gangguan penglihatan
- Pembengkakan di beberapa area tubuh, seperti wajah, kaki, pergelangan kaki
- Gejala perdarahan lambung atau usus (seperti sakit perut, tinja hitam, muntah yang terlihat seperti bubuk kopi)
- Perubahan mental atau suasana hati (mis. depresi, perubahan suasana hati, agitasi)
- Pertumbuhan rambut dan kulit yang tidak biasa
- Nyeri atau kram otot, kelemahan, mudah memar atau berdarah
- Penyembuhan luka lambat, kulit menipis, kejang.

Reaksi alergi yang sangat serius terhadap obat ini jarang terjadi. Namun, segera cari pertolongan medis jika melihat gejala reaksi alergi serius, seperti ruam, gatal atau bengkak (terutama pada wajah, lidah, tenggorokan), pusing parah, kesulitan bernapas.

Sementara itu, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO menyatakan ucapan terima kasih dan dukungan untuk Universitas Oxford yang telah menyelamatkan nyawa ribuan pasien Covid-19 dengan menggunakan obat Dexamethasone.

"Ini adalah berita bagus dan saya mengucapkan selamat kepada Pemerintah Inggris, Universitas Oxford, dan banyak rumah sakit dan pasien di Inggris yang telah berkontribusi pada terobosan ilmiah yang menyelamatkan jiwa ini," ujar Ghebreyesus.

0 komentar: