5 Hoax dan Fakta Tenpopuler COVID19

hoax covid19

Saat ini dunia termasuk Indonesia sedang disibukan oleh wabah COVID19. Penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV2 ini berhasil menginfeksi manusia hampir di seluruh negara yang ada di muka bumi. Bahkan negara adidaya seperti Amerika Serikat merasa kewalahan menghadapi COVID19,

Sayangnya, ditengah maraknya COVID19, ada pihak pihak yang memanfaatkan situasi dengan menyebarkan pesan yang berisi hoax tentang COVID19. Entah apa tujuannya, hoax ini telah berhasil menghambat sampainya informasi yang benar tentang COVID19. Selain itu, hoax COVID19 juga cenderung membuat orang mengabaikan dan menganggap remeh penyakit ini sehingga tidak menghiraukan anjuran untuk tetap di rumah. Optimisme semu yang diberikan oleh hoax ini tentu saja sangat berbahaya.

Berikut beberapa mitos dan fakta  yang ramai seputar penyebaran dan pencegahan Covid-19 yang harus banget kamu tahu:

Coronavirus nggak bisa bertahan di iklim tropis

Sebelum pemerintah mengumumkan secara resmi dua orang pertama yang positif Covid-19 di Indonesia, banyak masyarakat yang masih santai dengan merebaknya wabah Covid-19 di seluruh dunia. Bahkan banyak yang bikin jokes soal “kekebalan” orang Indonesia terhadap Coronavirus. Ada juga yang bilang bahwa Coronavirus nggak bisa masuk ke Indonesia karena iklim yang tropis yang panas dan lembap.

Saya nggak habis pikir kalau ada yang percaya misinformasi ini, sih. Pasalnya, Malaysia dan Singapura yang notabene punya iklim yang sama, dan tetangga lima langkah dari Indonesia saja sudah lebih dulu terkena wabah ini. Faktanya, WHO mengatakan bahwa Coronavirus bisa menyebar di negara dengan iklim apapun, termasuk iklim tropis. Begitu pun cuaca dingin nggak akan mampu menahan atau membunuh Coronavirus.

Banyak minum air putih bisa menangkal Coronavirus

Hidrasi yang cukup memang sangat diperlukan oleh tubuh. Karenanya minum air putih yang cukup sangat disarankan untuk menjaga kesehaatan secara menyeluruh. Namun langkah ini saja nggak cukup untuk menangkal Coronavirus. Saat sedang flu atau atau nggak enak badan, sering kita dianjurkan untuk banyak minum air agar tenggorokan lebih lega. Faktanya, dalam kasus Covid-19, gangguan di tenggorokan nggak dapat dibereskan dengan hanya minum air putih saja.

Berkumur air hangat ditambah garam dan cuka bisa menghilangkan Coronavirus
Sama halnya dengan misinformasi soal air putih di atas, kumur-kumur dengan garam dan cuka sering dilakukan untuk mengatasi sakit tenggorokan dikala flu, tapi nggak bisa digunakan untuk mengobati gejala akibat Covid-19. Sebuah informasi ramai beredar di berbagai media sosial, yang mengatakan bahwa sebelum Coronavirus mencapai paru-paru, virus bertahan di tenggorokan selama 4 hari, selama itu, seseorang akan merasakan gangguan pada tenggorokannya. Dengan kumur-kumur menggunakan air hangat ditambahkan garam dan cuka, virus tersebut dapat mati sebelum mencapai paru-paru.

Faktanya, hal ini benar-benar keliru dan menyesatkan. Nggak ada data ilmiah yang menyebutkan bahwa virus bertahan di tenggorokan selama 4 hari. Nggak ada pula bukti secara ilmiah yang menunjukkan cara ini efektif untuk mematikan virus. Jadi, informasi ini dapat dipastikan adalah hoax.

Jus lemon bisa menyembuhkan kanker, begitu pula Covid-19

Kayaknya lemon dianggap buah yang superpower oleh sebagian orang, ya. Banyak banget informasi salah mengenai manfaat lemon yang beredar di internet, mulai dari untuk mencerahkan kulit, mengobati jerawat, detox usus, hingga menyembuhkan kanker dan Covid-19. Namun informasi palsu tentang manfaat lemon untuk megobati kanker bukan hoax kemarin sore. Info salah ini sudah lama ada dan kini digaungkan kembali dan dikait-kaitkan dengan Covid-19.

Faktanya, lemon yang disebut-sebut bisa menyembuhkan kanker sendiri telah dibatah oleh Cancer Research UK sejak tahun 2013, lho! Nggak ada bukti saintifik yang menunjukkan efektivitas air perasan lemon dalam melawan kanker, apa lagi Covid-19 yang merupakan penyakit yang diakibatkan oleh virus. Sehingga perbandingan antara kanker dan Covid-19 dalam pesan ini saja sudah nggak apple-to-apple.

Dalam kaitannya dengan Covid-19, WHO hingga saat ini masih menyatakan belum ada obat atau treatment spesifik yang diketahui efektif untuk pencegahan maupun penyembuhan Covid-19, termasuk pula antibiotik, vaksin pneumonia, dan konsumsi bawang putih yang juga sering disebut dapat menangkal dan menyembuhkan Covid-19.

Perokok kebal terhadap Coronavirus

Hoax lainnya yang beredar di media sosial terkait Covid-19 adalah pernyataan mengenai perokok yang kebal dengan Coronavirus. Dari pesan yang beredar tersebut, disebutkan kalau tembakau dan cengkeh dapat menangkal Coronavirus, sehingga asap rokok dianggap baik untuk menjaga tubuh dari Covid-19.

Kalau saya sih merasa ini hanya denial dari para perokok aktif supaya nggak dilarang merokok, sih, hahaha. Pesan ini jelas saja hoax. Jauh sebelum Covid-19 mewabah di Wuhan, buruknya dampak rokok terhadap kesehatan organ pernafasan sudah nggak perlu diperdebatkan lagi, apa lagi setelah adanya Covid-19 yang merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan. Faktanya, dilansir dari VOA, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman justru menyebutkan bahwa perilaku merokok bagi perokok aktif dapat meningkatkan risiko terinfeksi Coronavirus.

Selain itu, dalam halaman Q&A WHO juga menegaskan bahwa dari beberapa hal yang SEHARUSNYA NGGAK DILAKUKAN, karena nggak terbukti efektif dalam mencegah dan mengobati Covid-19, dan malahan akan berbahaya, salah satunya adalah merokok.

Pada dasarnya, membagikan informasi kesehatan pada orang-orang terdekat adalah bentuk caring kita pada orang-orang tersayang. Namun, perlu digarisbawahi bahwa nggak semua informasi yang beredar adalah benar. Lebih baik saring dulu info yang diperoleh sebelum di-sharing, jangan sampai hoax malah makin menyebar karena kita asal forward.

2 comments: