Selasa, 14 November 2017

Menyusui Ternyata Tidak Melindungi Anak Dari Asma Dan Alergi

Hubungan antara menyusui dengan risiko penyakit asma dan alergi sudah lama diperdebatkan. Kini perdebatan itu diramaikan oleh temuan terbaru dari Universitas Uppsala. Menurut studi yang dipublikasikan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology, menyusui dapat meningkatkan risiko hay fever dan eksim sementara untuk risiko asma, efeknya belum diketahui dengan jelas.

Risiko seseorang menderita asma dan alergi tergantung dari berbagai macam faktor, seperti genetik, lingkungan dan gaya hidup. Beberapa gaya hidup bahkan sudah terbukti secara ilmiah sebagai biang kerok terjadinya asma dan alergi. Salah satu dari gaya hidup tersebut adalah merokok. Namun, studi yang mengungkap efek perlindungan ASI terhadap asma dan alergi masih memberikan hasil yang tidak konsisten. Beberapa hasil studi malah melaporkan terjadinya peningkatan risiko.

Studi yang dilaksanakan di Inggris ini menitikberatkan pada efek menyusui terhadap kejadian asma, hay fever dan eksim. Studi yang cukup besar ini melibatkan lebih dari 330.000 orang dewasa usia pertengahan. Mereka diminta melaporkan beberapa data yang diminta oleh peneliti.

Hasilnya, mereka yang mendapatkan ASI pada saat bayi,mengalami peningkatan risiko menderita hay fever dan eksim, sedangkan untuk asma, efeknya tidak terlihat.

Hasil studi juga menunjukan, peningkatan status sosial ekonomi dapat menurunkan risiko asma dan meningkatkan risiko hay fever. Hasil ini menunjukan, kondisi keluarga yang lebih bersih dan kemampuan finansial yang meningkat akan mendorong keluarga tersebut untuk melakukan deteksi dini alergi dengan lebih baik, sebaliknya mereka mendapatkan paparan kuman yang lebih kecil sehingga daya tahan tubuhnya lebih lemah.

Hasil lainnya, peningkatan indeks massa tubuh (IMT) juga memiliki pengaruh terhadap risiko asma, hay fever dan eksim. Mereka yang ber-IMT tinggi, mengalami peningkatan risiko asma, hay fever dan eksim, sementara mereka yang ber-IMT rendah mengalami hal yang sebaliknya.

Harap diingat, studi ini sifatnya hanya studi observasi sehingga tidak bisa digunakan sebagai pedoman klinik dalam praktek sehari hari. Ada banyak kelemahan pada studi ini sehingga kesimpulannya perlu dikuatkan oleh studi lain yang lebih besar.


EmoticonEmoticon